NAGA DI TANAH SINGA

Month

June 2013

1 post

Jun 2, 2013362 notes

May 2013

8 posts

Play
May 30, 20132 notes
Play
May 26, 2013

Seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya atas orang-orang yang dipimpinnya dan ia akan diaudit atas kepemimpinannya oleh Allah SWT kelak.

1 hal yang paling gw takutin sampe sekarang.

May 21, 20133 notes
May 19, 2013
May 18, 2013196,202 notes
Play
May 11, 20132 notes
Play
May 10, 20131 note
“Kita adalah sayap-sayap sang Garuda” —Twentyfirst Night - Selamanya Indonesia
May 9, 2013

April 2013

7 posts

Ini Kate Middleton Hamil 6 Bulan → bbc.co.uk

Ternyata memang benar, ‘secantik-cantiknya perempuan, paling cantiknya ketika sedang mengandung’. 

Apr 23, 2013
Generasi yang Dijanjikan

Dulu waktu masih muda gw inget seseorang yg lebih tua menasihati gw. Kurang lebih gw rangkum/tafsir seperti ini:

“Generasi kamu, Kal, yang baru bisa bikin Indonesia maju, karena pada generasimu baru bisa kalian berpikir bebas. Generasi sekarang (generasi orang tua kita maksudnya pas dulu gw masih agak kecil kan ceritanya) itu masih dididik oleh generasi yang dulu dijajah (generasi eyang2 kita), pola pikirnya masih negara bekas jajahan, dan tumbuh dengan pendidikan orde baru. Generasi kalian lah yang berpola pikir bebas, terbebas dari doktrin2, dan bisa membawa Indonesia maju.”

‘Generasi yang Dijanjikan’ 

Gw tumbuh dengan keyakinan bahwa gw adalah bagian dari generasi yang dijanjikan, generasi yang membawa perubahan. Melalui generasi gw nanti ga ada lagi itu KKN, alias Korupsi Kolusi Nepotisme, sesuatu yang dulu gw ga ngerti apaan artinya. Melalui generasi gw, Indonesia bisa berperan lebih besar di dunia, menjadi negara maju, posisi di mana negara ini seharusnya lebih pantas berada.

Mungkin bukan cuman gw, teman2 juga. Mereka juga pasti merasa bahwa di generasi kita lah kita dapat peluang untuk belajar sangat banyak, baik dari sejarah Indonesia zaman kolonial sampai reformasi, belajar dari teknologi yang semakin maju, dan yang penting lagi, peluang untuk melihat dan membandingkan Indonesia dengan dunia luar.

Tapi, melihat generasi kita sekarang, apakah benar kita generasi yang dijanjikan?

Ataukah memang benar kita sekarang berpikirian terbuka tetapi malah tertelan di dalamnya tanpa memiliki pegangan hidup lagi dalam diri?

Coba kita lihat sekitar. 

Generasi kita kloter awal yang terlibat di reformasi dan pasca reformasi beberapa sekarang malah terlibat kasus yang mereka dulu terang-terangan lawan.

Budaya ketimuran kita sekarang malah termakan oleh budaya barat yang merangsek masuk dengan mudah. Nongkrong2 sambil minum bisa di mana2. Jumat & Sabtu malam berdansa ria sampai mentari terbit. Bangga dengan DP BBM pegang botol bir dan muka yang udah jelas kesadarannya kemana. Dan ya terlihat beberapa banyak yg kasus kecelakaan dibawah alkohol dan narkotika. Belum lagi kayaknya judi bola dll semakin banyak di kalangan teman2.

Kita yang dulu yakin bakal jadi generasi yang ‘bersih’ tapi malah menganut yang penting lulus ujian walaupun pake kunci dan liat kanan kiri. Yang nilainya murni tapi ga wow2 amat malah dikira ga belajar (masih agak kesel hehehe).

Kita selalu merasa menjadi wakil dari suara rakyat yang sebenarnya, bukan bapak-ibu di DPR itu. Mewakili suara rakyat, tapi suka merugikan khalayak ramai ketika beraksi demo. Berkoar-koar ini itu. Tapi setelah demo, apa kontribusinya untuk negara? Gw rasa ga banyak nilai plus yang diberikan untuk negara. Mau jawab “belajar dengan tekun” sebagai wujud mengabdi pada negara kayak zaman SD dulu? Yakin ‘belajar’ dengan baik sekarang? Absen kuliah bolong-bolong (dan sebagian karena mengatasnamakan untuk demo membela suara rakyat) itu? Yakin kalian sudah membalas jerih payah orang tua kalian untuk bayarin kuliah dengan sebenar-benarnya? Kalau dari awal sudah tidak menghargai jerih payah orang tua itu, masih yakin kalian siap menjadi ‘generasi yang dijanjikan’?

Jawaban gw:

GW MASIH PERCAYA BAHWA GENERASI KITA ADALAH GENERASI YANG DIJANJIKAN!

Jangan termakan sama tulisan-tulisan gw di atas! Masih banyak para pemuda Indonesia yang jenius, berbudi pekerti luhur, peduli dengan sesama, dan siap mengabdi untuk negara. Ribuan, puluh ribuan, bahkan ratus ribuan atau jutaan! Jangan kita dibuat pesimis oleh hal-hal negatif yang selalu ada di permukaaan. Dibawah permukaan masih banyak potensi yang tersimpan, yaitu kita semua. Jangan biarkan hal-hal negatif itu menutupi potensi yang kita punya. Saatnya kita tunjukkan potensi yang kita punya, tunjukkan kemampuan generasi kita dan jangan biarkan segelintir hal-hal negatif meredupkan bara potensi generasi muda. 

2030 Indonesia diprediksi McKinsey menjadi negara terbesar ke7 di dunia. Gw yakin kita bisa mencapai itu, dan generasi kitalah yang menjadi motornya!

GENERASI YANG DIJANJIKAN!

Apr 20, 20131 note
Play
Apr 18, 20131 note
Northern Accent-ish
  • Di Malaysian Career Fair (tersesat)
  • ...... (chatting with a Malaysian guy [MG] representing RHB Bank)
  • MG: umm sorry, where are you studying again?
  • Me: Lancaster
  • MG: Lancaster University, right?
  • Me: Yes
  • MG: Yes, I noticed your northern accent.
  • Mas saya mah ti bogor logatna lain ti Lancaster. Mun udah kayak bule alhamdulillaah atuh hatur nuhun gusti Allah
Apr 7, 2013
Apr 5, 20131 note
Apr 4, 20134 notes
Apr 1, 20131 note

March 2013

5 posts

Kegalauan Seorang Pemuda Muslim Indonesia

Hmmm entah gw doang yang sadar atau mungkin banyak orang yang sadar bahwa mulai banyak cafe/pubs/bars yang buka di Indonesia, dan tentunya mereka menjual minuman beralkohol. Entah kenapa ini memunculkan kebimbangan buat gw sebagai seorang pemuda beragama Islam di negara yang mayoritas Islam ini. Kali ini gw coba mengulas pandangan gw tentang ‘trend’ terbaru ini.

Pemikiran ini pertama kali muncul ketika gw pulang ke Indonesia last summer, tepatnya pas lewat tanjakan Villa Duta. Sebagai orang Indonesia yang merantau di negeri orang, gw memiliki 2 sisi pendapat mengenai menjamurnya tempat2 nongkrong ini. 

Jujur, pandangan pertama gw yang muncul adalah kegembiraan. Wow, ternyata Indonesia terbuka ya! Seneng gw bahwa akhirnya teman-teman kalangan ekspatriat bisa menikmati ‘budaya nyantai’ ala mereka. Seneng bahwa teman-teman non muslim bisa nongkrong-nongkrong di tempat umum sambil minum-minum santai. Seneng bahwa hak-hak mereka terpenuhi. Tapi hmm…. kok kadang-kadang isinya teman-teman yang muslim ya?

ALKOHOL HARAM! Mungkin otak ini kembali terpanggil ke jaman dulu jadi pengurus DKM hehehe. Selalu berpikir bahwa ya Allah kok itu teman-teman muslim malah minum2? Tapi gw coba berpikiran positif. Imam Hanafi berpendapat bahwa alkohol haram kalo bikin lo mabok, jadi kalo minum2 ga mabok ya oke2 aja. Gw mikir yaa mungkin teman-teman ini adalah penganut mazhab Hanafi. Tapi apakah lo yakin tahu batasan di mana lo mabok dan ga mabok? Dan lebih kompleks lagi, apakah lo tahu bahwa tipsy, merry, dll itu udah kena kategori mabok (ie jadi haram) atau ngga. Dan realitanya kadang-kadang teman-teman yang Islam (atau Islam KTP gw ga tau) juga mabok….

Selain itu juga masalah duit (maklum lah saya mahasiswa sensitif terhadap duit). Rasanya kaya banget ya Indonesia ini? Sama-sama mahasiswa tapi bisa minum-minum abisin ratusan ribu dalam semalem. Gw aja yang kuliah di sini jujur ga mampu buat ngeluarin uang sebesar itu buat nongkrong2. Dan yang gw liat di Indonesia itu harga minuman beralkohol tuh muahaaal dan kalian minumnya itu premium brands (Chivas, Jack Daniels, Absolut, dll)!!! Apakah generasi kita penganut ‘makan ga apa2 ikan asin dan tempe yang penting nongkrong tetep gaya’?

Tapi balik lagi, Indonesia adalah negara terbuka berbasiskan demokrasi, bukanlah negara Islam. Budaya luar silahkan masuk ke Indonesia tanpa halangan dan budaya Indonesia silahkan dipromosikan ke luar. Tetapi buat yang satu ini, apakah memang generasi kita udah siap untuk budaya ‘nongrong + minum’ ini? Apakah cara berpikir kita sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan ini? I don’t think so. Gw merasa masih banyak yang mengaku/merasa dewasa tapi nyatanya belum dewasa. Belum bisa drink responsibly dan mayoritas cuman ikut-ikutan aja biar gaul.

Cukup deh gw mengoceh-mengeluh ini. Negara ini butuh solusi, Bung! (gaya lo kal). Mungkin solusi utama adalah seperti yang diterapkan di negara-negara barat yaitu butuh ID (KTP) setiap kali beli alkohol (gw belom lihat ini diterapkan banget di Indonesia). Dan ini diterapkan di semua toko, cafe, dan apapun istilahnya apabila ada pembeli yang muslim (dilihat dari saat pengecekan KTPnya, disamping buat cek umur).Bukannya melarang yang muslim untuk membeli, tapi sekadar memperingatkan ‘Mbak/Mas, ini minumannya ada alkoholnya ya. Masih mau membeli?’. Dan kembali, keputusan ada di tangan sang pembeli, mau lanjut beli atau ngga dengan konsekuensi ditanggung sendiri (terutama konsekuensi akhirat).

Dan aslinya jawaban itu ada di diri masing-masing, seberapa dewasa kah kalian di usia yang seharusnya udah dewasa? Dan yakin itu ‘Islam’ bukan sekedar status pendamping ‘belum kawin’ di KTP?

Mar 31, 20136 notes
Mar 30, 2013
Easter Holiday sudah tiba!

Di liburan Easter kali ini, bakal gw isi dengan mendaftar buat industrial placement sebanyak-banyaknya, urus-urus program PPI UK, terutama yang besar, dan belajar buat Summer Exam.

Tetapi gw akan menluangkan waktu untuk rajin nulis di blog ini, tentang Indonesia, kaum muda & pelajar, refleksi diri dan lain-lain. Jadi tunggu ya tulisan-tulisan gw!

Mar 26, 2013
Play
Mar 13, 2013
Next page →
2012 2013
  • January 5
  • February 4
  • March 5
  • April 7
  • May 8
  • June 1
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 15
  • February 6
  • March 7
  • April 8
  • May 4
  • June 5
  • July
  • August
  • September
  • October 2
  • November 12
  • December 3
2011 2012
  • January
  • February 25
  • March 11
  • April 23
  • May 27
  • June 19
  • July 5
  • August 9
  • September 3
  • October 15
  • November 11
  • December 10